top of page

Monolithic vs Microservices: Mana yang Tepat? | CODE.ID

  • dhea76
  • 16 Sep 2025
  • 6 menit membaca

Diperbarui: 15 Jan

Monolithic vs Microservices: Mana yang Tepat? | CODE.ID
Monolithic dan Microservice: Dua Pendekatan Arsitektur dengan Dampak Berbeda

Apakah tim Anda sedang bingung menentukan, "Kita harus membangun sistem aplikasi kita dengan cara lama yang terintegrasi (Monolith), atau cara baru yang terpecah-pecah (Microservice)?" Keputusan ini bukan sekadar urusan teknis developerĀ saja, lho. Pilihan arsitektur ini akan sangat menentukan seberapa cepat bisnis Anda bisa berinovasi, seberapa besar biaya maintenanceĀ Anda, dan seberapa tangguh sistem Anda menghadapi lonjakan trafik.


Memilih antara Monolithic vs MicroserviceĀ ibarat memilih antara membangun satu gedung pencakar langit yang besar dan tunggal, versus membangun satu kompleks perumahan yang terdiri dari banyak rumah terpisah. Masing-masing punya kelebihan dan risiko unik yang bisa sangat memengaruhi strategi B2B Anda.


Artikel ini akan membedah perbandingan kedua arsitektur ini dengan bahasa yang mudah dipahami (know simple). Lebih penting lagi, kita akan fokus pada tiga skenario krusialĀ yang menjadi sinyal kuat bahwa sudah waktunya perusahaan Anda mempertimbangkan migrasi dari Monolith ke Microservice, sehingga Anda bisa membuat keputusan strategi deploymentĀ yang tepat bagi pertumbuhan.



Apa Itu Monolithic vs Microservice?

Monolithic vs MicroserviceĀ adalah dua model arsitektur utama yang digunakan dalam merancang aplikasi perangkat lunak bisnis, terutama yang berskala besar.

MonolithicĀ bisa didefinisikan sebagai arsitektur di mana semua komponen fungsional (seperti antarmuka pengguna, logika bisnis, dan akses data) dikemas menjadi satu unit tunggalĀ yang besar dan saling bergantung. Ini adalah cara tradisional membangun aplikasi.

Sebaliknya, arsitektur MicroserviceĀ memecah aplikasi besar tersebut menjadi kumpulan layanan-layanan kecil yang berjalan secara independen. Setiap layanan memiliki codebaseĀ dan database-nya sendiri, berkomunikasi melalui API, dan bisa dikelola (di-deploy) tanpa mengganggu layanan lainnya. Perbedaan utama terletak pada CouplingĀ (keterkaitan): Monolith punya couplingĀ tinggi, Microservice punya couplingĀ rendah.


Manfaat Kunci Masing-Masing Arsitektur

Memahami keuntungan masing-masing model akan membantu Anda menyelaraskan keputusan teknis dengan kebutuhan bisnis B2B Anda.


  • Keuntungan Monolithic:

    • Simplicity and Speed:Ā Lebih cepat untuk dibangun di awal karena tidak ada kompleksitas integrasi antar-layanan.

    • Lower Initial Cost:Ā Karena tim kecil bisa mengelolanya, biaya infrastruktur dan deploymentĀ awalnya lebih rendah.

    • Easier Debugging:Ā Seluruh kode berada dalam satu tempat, membuat proses pelacakan bugĀ lebih sederhana di awal.


  • Keuntungan Microservice:

    • High Scalability:Ā Anda hanya perlu menambah sumber daya pada layanan yang sedang ramai (misalnya, payment service), tanpa harus meningkatkan seluruh aplikasi.

    • Technology Diversity:Ā Tim Anda bebas memilih bahasa pemrograman atau database terbaik untuk setiap layanan, tidak harus terikat pada satu teknologi saja.

    • Fault Isolation (Ketahanan Gagal):Ā Jika satu layanan gagal (misalnya, layanan chat), layanan lain (misalnya, layanan checkout) tetap berjalan normal.

Pada dasarnya, Monolithic unggul dalam kesederhanaan awal, sementara Microservice unggul dalam fleksibilitas, skalabilitas, dan ketahanan jangka panjang.


Kapan Transisi Menjadi Krusial


ā€œSebagai profesional yang sering berkonsultasi dengan bisnis B2B, saya melihat bahwa perdebatan Monolithic vs MicroserviceĀ seringnya bukan soal 'mana yang terbaik', tapi soal timing dan cost-benefit.


Saya pernah menangani sebuah startupĀ yang aplikasinya tumbuh pesat. Mereka awalnya memakai Monolith, yang mana itu keputusan yang sangat tepat di awal karena development cycleĀ mereka cepat. Tapi setelah 3 tahun, proses deploymentĀ satu fitur kecil butuh 3 hari, dan bugĀ di satu modul bisa meruntuhkan seluruh sistem!


  • Insight unik:Ā Masalah Monolith muncul saat tim Anda mencapai 'Batasan Kognitif'—yaitu ketika tidak ada satu developerĀ pun yang bisa memahami seluruh codebaseĀ sendirian.

  • Insight unik:Ā Transisi ke Microservice itu mahal dan butuh disiplin tinggi dalam Data ConsistencyĀ dan Monitoring. Jangan pindah hanya karena 'tren'. Pindahlah saat biaya maintenanceĀ dan deploymentĀ Monolith sudah jauh lebih mahal daripada biaya transisi.

  • Insight unik:Ā Microservice memaksa Anda untuk punya tata kelola teknis yang sangat rapi. Jika proses internal tim Anda sudah berantakan, Microservice hanya akan membuat kekacauan yang terbagi menjadi 100 bagian kecil.


Oleh karena itu, saya percaya bahwa Monolith adalah pilihan terbaik untuk Minimum Viable ProductĀ (MVP), dan Microservice baru menjadi keharusan ketika skalabilitas dan kecepatan development cycleĀ menjadi hambatan serius bagi pertumbuhan pendapatan perusahaan.ā€


3 Skenario Kapan Harus Pindah dari Monolithic ke Microservice


Kapan persisnya Anda harus mengeluarkan dana besar untuk memecah Monolith menjadi Microservice? Keputusan migrasi harus didorong oleh kebutuhan bisnis yang nyata. Berikut adalah tiga skenario penentu:


Skenario 1: Development Cycle Melambat Drastis (Batasan Tim)


Ini adalah tanda paling umum. Tim developer Anda mulai kesulitan menambahkan fitur kecil tanpa sengaja merusak fitur lain, atau proses building dan deployment aplikasi memakan waktu berjam-jam.

  • Penyebab:Ā Tight couplingĀ (keterikatan kode yang terlalu erat) dan codebaseĀ yang terlalu besar sehingga sulit dipahami oleh satu individu.

  • Solusi Migrasi:Ā Pecah codebaseĀ menjadi Microservice untuk memungkinkan deploymentĀ yang independen. Tujuannya adalah memotong waktu development cycleĀ dari hari menjadi hitungan menit.


Skenario 2: Skalabilitas Vertikal Sudah Tidak Memadai (Bottleneck Performa)


Anda sudah mencoba menambah RAM dan CPU server sebesar mungkin (skalabilitas vertikal), tetapi performa aplikasi masih drop saat ada lonjakan trafik. Ada satu fungsi (misalnya, proses upload gambar atau checkout) yang membebani seluruh sistem.

  • Penyebab:Ā Monolith harus di-scaleĀ secara keseluruhan. Anda membayar untuk sumber daya yang tidak dibutuhkan oleh sebagian besar layanan.

  • Solusi Migrasi:Ā Pindahkan layanan yang paling haus sumber daya (bottleneck) menjadi Microservice mandiri. Ini memungkinkan skalabilitas horizontalĀ (menambah banyak instanceĀ kecil) hanya pada layanan yang bermasalah.


Skenario 3: Kebutuhan Fault Isolation yang Sangat Tinggi


Kegagalan di satu bagian kecil aplikasi tidak boleh menyebabkan seluruh layanan bisnis Anda mati. Ini krusial untuk layanan mission-critical seperti fintech atau e-commerce besar.

  • Penyebab:Ā Dalam Monolith, kegagalan pada satu modul (misalnya kebocoran memori) sering menyebabkan crashĀ pada keseluruhan aplikasi.

  • Solusi Migrasi:Ā Pindah ke Microservice akan memberikan Fault Isolation. Jika layanan recommendationĀ gagal, layanan utama (pembayaran, login) tetap berfungsi penuh, menjaga kontinuitas bisnis dan mengurangi dampak kegagalan.


Risiko dan Kompleksitas yang Perlu Diwaspadai


Baik Monolithic maupun Microservice memiliki risiko tersendiri. Mengenalinya adalah kunci untuk merancang mitigasi.

Arsitektur

Risiko/Kekurangan yang Umum

Solusi yang Perlu Disiapkan

Monolithic

Tight Coupling:Ā Kesulitan merilis fitur baru karena setiap perubahan kecil mengharuskan deploymentĀ ulang seluruh aplikasi.

Solusi:Ā Terapkan modularitas yang ketat di dalam Monolith (Misalnya, Layered Architecture) atau siapkan strategi strangler patternĀ untuk migrasi bertahap.

Monolithic

Technology Lock-in:Ā Sulit mengadopsi teknologi baru karena seluruh sistem terikat pada satu bahasa pemrograman atau frameworkĀ lama.

Solusi:Ā Investasi rutin dalam refactoringĀ dan dokumentasi kode, serta alokasi waktu technical debt.

Microservice

Complexity & Overhead:Ā Peningkatan kompleksitas pada monitoring, networking, dan deploymentĀ antar layanan.

Solusi:Ā Gunakan alat orchestrationĀ seperti Kubernetes atau service meshĀ dan terapkan ObservabilityĀ (Logs, Metrics, Traces) yang kuat.

Microservice

Distributed Transactions:Ā Sulit menjaga konsistensi data di banyak database independen (misalnya, jika orderĀ berhasil tapi paymentĀ gagal).

Solusi:Ā Terapkan pola SagaĀ atau Event SourcingĀ untuk mengelola transaksi lintas layanan.


Tips Mengoptimalkan Pilihan Anda


Terlepas dari pilihan Anda, berikut adalah tips praktis untuk memastikan arsitektur Anda memberikan hasil bisnis terbaik:

  • Jangan Copy-PasteĀ Arsitektur Perusahaan Lain:Ā Spotify dan Netflix menggunakan Microservice karena masalah mereka spesifik (skala triliunan permintaan). Masalah Anda mungkin bisa diselesaikan dengan Monolith yang bersih.

  • Investasi dalam Otomatisasi DeploymentĀ (CI/CD):Ā Ini mutlak. Jika Anda memilih Microservice, Continuous Integration/Continuous DeploymentĀ (CI/CD) adalah penyelamat Anda dari kekacauan deploymentĀ yang terpisah-pisah.

  • Definisikan Batasan Layanan dengan Jelas (Bounded Context):Ā Dalam Microservice, pastikan setiap layanan hanya melakukan satu hal dan melakukannya dengan baik, tanpa tumpang tindih dengan layanan lain.

  • Prioritaskan Kualitas Komunikasi API:Ā Komunikasi yang buruk antar serviceĀ dalam Microservice sama buruknya dengan kode yang berantakan di Monolith. Pastikan API didokumentasikan dengan baik.


Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ Schema Section)


Apakah Monolithic sudah kuno dan harus ditinggalkan?

Tidak sama sekali. Monolithic masih menjadi pilihan terbaik dan paling efisien untuk aplikasi berskala kecil, MVP (Minimum Viable Product), atau aplikasi internal perusahaan B2B yang kompleksitas fungsionalnya terbatas. Kuno atau tidaknya tergantung kebutuhan deployment cycle dan skalabilitas Anda.


Apa bedanya Microservice dengan SOA (Service-Oriented Architecture)?

Perbedaannya ada di ukuran dan otonomi. Microservice jauh lebih kecil, sepenuhnya independen, dan punya database sendiri, menekankan pada Low Coupling. SOA cenderung melibatkan layanan yang lebih besar dan sering berbagi sumber daya seperti database bersama.


Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk migrasi dari Monolith ke Microservice?

Migrasi ini biasanya memakan waktu 1 hingga 3 tahun, tergantung ukuran aplikasi. Pendekatan terbaik adalah menggunakan Strangler Pattern, yaitu membangun Microservice baru di sekitar Monolith yang ada, dan secara perlahan 'mencekik' (mengganti) fungsionalitas Monolith lama.


Siapa yang paling cocok menggunakan arsitektur Microservice?

Microservice cocok untuk perusahaan besar atau B2B yang memiliki volume trafik tinggi, tim developer yang besar dan terbagi-bagi (decentralized development), dan membutuhkan skalabilitas independen yang cepat, seperti e-commerce besar, layanan streaming, atau platform fintech.


Memilih antara Monolithic vs MicroserviceĀ adalah keputusan strategis yang menentukan masa depan teknis perusahaan Anda. Monolith adalah pilihan terbaik untuk start awal yang cepat dan efisien biaya, memberikan development cycleĀ yang ringkas. Sementara itu, Microservice menawarkan skalabilitas tak terbatas, fault isolation, dan fleksibilitas teknologiĀ yang dibutuhkan untuk bisnis B2B yang tumbuh pesat. Kunci suksesnya? Pilih arsitektur yang paling sesuai dengan ukuran tim dan tingkat kompleksitas yang Anda hadapi hari ini, bukan yang paling trendi.

Jika Anda masih penasaran, cari tahu lebih dalam: Monolithic Architecture: Masih Relevankah di Era Cloud?


Keputusan arsitektur sangat krusial, dan memilih yang salah bisa memakan biaya jutaan. Jangan ambil risiko!

Tim kami di CODEIDĀ siap membantu Anda menganalisis kebutuhan skalabilitas dan development cycleĀ bisnis Anda untuk menentukan apakah Monolithic yang optimal, atau Microservice yang strategis.

Kunjungi website kami di www.code.idĀ sekarang untuk mengatur konsultasi teknis B2B gratis. Mari pastikan fondasi teknologi Anda siap untuk pertumbuhan eksponensial bersama CODEID!

Ā 
Ā 
Ā 

Komentar


861/2 Copper PI , zetlandNSW, Sydney 2017

  • Whatsapp
  • Facebook
  • Instagram
  • LinkedIn
  • YouTube

©2023. All right reserved.

Address

Jakarta

Mangkuluhur City Tower One 7th Floor

Jl. Gatot Subroto Kav. 1-3
Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12930

Sydney

Contact

Careers

Jakarta : hello@code.id

​Sydney : andrew.o@code.id

​

Phone : +6221  5010 3081

WhatsApp : 0813 9971 0111

CODE.ID Logo

CODE.ID is a software development service company that focuses on helping clients turn their best ideas into a product, application, or website.

bottom of page